Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Berita UtamaJakartaOpiniTerbaru

TAHUN BARU HIJRIYAH dan URGENSI REFORMASI AKHLAK

33
×

TAHUN BARU HIJRIYAH dan URGENSI REFORMASI AKHLAK

Sebarkan artikel ini
Foto Ahman Nurdin ( AN)
banner 325x300

Oleh : Ahman Nurdin

Hari ini harus lebih baik dari kemarin. Itulah orang yang bertuntung. Sebaliknya, jika hari ini sama dengan kemarin, apalagi lebih buruk, itu tergolong orang yang rugi. Itulah hadits Rasulullah yang memberikan makna spirit ikhtiar: pergantian tahun hijriyah ini haruslah dijadikan tonggak perjuangan perubahan yang lebih baik dari tahun lalu. Kini, bagaimana memaknai pergantian tahun hijriyah 1446 ini?

Dalam kontek bangsa dan negara Indonesia, ada kondisi yang sangat mendesak untuk diperbaiki. Yaitu, reformasi akhlak, di berbagai bidang. Tak bisa dipungkiri, kerusakan akhlak telah menyeruak di semua kalangan, dari anak-anak hingga kaum tua, tanpa pandang usia dan gender. Kerusakan itu juga melanda tatanan kehidupan dalam bernegara, dari sektor ekonomi, hukum, politik, bahkan budaya dan alam pemikiran.

Parorama kerusakan akhlak itu benar-benar merasuki berbagai bidang kehidupan masyarakat dan negara. Seolah, tak ada tempat dalam kehidupan untuk bersikap dan bertindak dengan prinsip akhlak mulia. Kini sikap dan tindakan berlandaskan akhlak mulia seperti barang langka. Melawan arus. Terkesan aneh. Innaa lillaahi. Pantaslah, hadits menggambarkan, “shiratal mustaqim (jalan urus)” dilukiskan bagai seutas rambut dibelah tujuh. Begitu tipisnya. Dan tentu demikian sulitnya menapaki jalan lurus itu dalam koridor kebenaran menurut ketentuan Allah dan Rasul.

Mencermati dominasi akhlaq madzmumah (akhlak yang tercela), kita seperti tak punya ruang untuk berperilaku secara terpuji menurut ketentuan yang ditetapkan Allah dan Rasul. Ketika kita mencatat bahwa akhlak Rasulullah adalah al-Qur`an, apakah kita telah “ber-alqur`an”? Pertanyaan ini bukan hanya untuk urusan individual (privat), tapi juga urusan publik. Islam adalah way of life untuk setiap pribadi, juga masyarakat dan negara. Dan Allah tegaskan, jangan mengharapkan surga-Nya jika dirinya tak hiraukan saudara-saudara di sekitarnya. Senada dengan pertanyaan itu, janganlah mengharapkan surga-Nya bagi sosok pemimpin yang ingkar terhadap ketentuan Allah dan Rasul. Sikap tegas Allah ini menggambarkan ketentuan Islam untuk setiap diri, tapi juga umat, bahkan makhluk lainnya.

Cara pandang dan sikap menghormati pihak lain, termasuk terhadap alam semesta berbijak pada rasa hormat terhadap al-Qur`an. Bersikap ta`dzim dan menjalankan prinsip dan atau ketentuan al-Qur`an sejatinya menunjukkan rasa cintanya kepada Rasulullah, dan Allah itu sendiri sebagai sang Khaliq.

Tak bisa dipungkiri, panorama kerusakan di muka bumi ini, dalam kaitan kehancuran alam semesta yang mengakibatkan banjir, gempa, angin putting beliung, juga kerusakan tatanan kenegaraan (politik, ekonomi, hukum dan lainnya) semua itu akibat dari rusaknya akhlak pada setiap diri kita, sebagai rakyat, terlebih pada diri pemimpin. Mengutip folosuf muslim Imam Ghazali – dalam bukunya “kimyatus sa`adah – menyampaikan adanya petak hati yang berisi sifat lawwamah, muhimmah, muthmainnah dan mardliyyah. Digambarkan oleh Imam Ghazali, sifat lawwamah merupakan sifat kebinatangan. Bernaluri membunuh lawan atau yang pihak dicurigai. Tak mau disaingi. Egois.

Dominasi sifat lawwamah mendorong diri kita berbuat bagai binatang, tanpa kontrol diri. Libidonya menerabas seksualitas secara ilegal dan egoisme lebih dominan (otoriter). Libido itu pun akhirnya merambah pada sikap politik (kekuasaan). Inilah daya rusak yang sungguh hebat. Sehingga kita saksikan kerusakan terjadi di mana-mana. Anehnya, jika ada pihak yang berusaha mencegah kemungkaran justru dihadapi secara antagonis. Antagonisitas itu kadang diperlihatkan oleh individu tertentu. Kadang – dan hal ini yang menonjol – antagonitas itu dilakukan oleh negara. Inilah yang sering kita saksikan pada praktik kriminalisasi, sampai ke penghilangan nyawa secara paksa.

Sejumlah potret kerusakan itu membuat kita harus merenung bagaimana memperbaiki. Kata kuncinya ada pada akhlak yang harus dibenahi. Kondisinya mendesak, karena tingkat kerusakannya memang sudah pada stadium tinggi. Harus kita catat, akhlak menjadi hal yang sangat mendasar dalam menapaki kehidupan, sebagai pribadi, masyarakat, bangsa dan negara.

Jika kita tengok perjalanan risalah Rasulullah, maka yang awal disampaikan dalam dakwahnya adalah memperbaiki akhlak. “Innamaa bu`itstu li utammima makaarimal akhlaaq”. (Aku diutus ke muka bumi ini untuk menyempurnakan akhlak).

Apa yang disampaikan Rasullah punya makna ganda. Pertama, dalam tatanan kehidupan bangsa Arab sesungguhnya terdapat orang-orang yang berakhlak mulia, tapi kalah dominan. Namun – sebagai hal kedua – tak bisa dipungkiri bahwa tabiat dan perilaku bangsa Arab saat itu sangat rusak dan mendominasi sistem kehidupan masyarakat Arab. Tidak hanya terkait dengan sistem kepercayaan, tapi juga sistem sosialnya. Wanita tak ada harganya. Bayi-bayi Wanita dikubur hidup-hidup. Yang kuat menindas yang lemah. Minuman keras menjadi pemandangan umum. Semua ini mengakibatkan kondisi sosial rusak.

Itulah yang membuat keprihatinan Muhammad sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Keprihatinan itu pula yang mendorong Rasulullah mencari petunjuk: untuk memperbaiki akhlak. Sebagai langkah mendasar memperbaiki sistem kehidupan masyarakat. Di tengah masyarakat dan negara yang didiminasi akhlak tak terpuji (madzmumah), maka reformasi akhlak menjadi krusial dan urgent.

Sangatlah rasional jika kita mencatat bahwa kerusakan di muka bumi saat ini – apalagi di Tanah Air ini – jauh lebih rusak dibanding zaman Rasulullah. Tingkat kerusakannya sangat sistimatis, massif, bahkan by design. Melibatkan persekongkolan yang sangat rapi. Sungguh mengerikan dampaknya bagi umat manusia dan alam semesta ini. Karena itu, tak ada jalan lain bagi kita semua, sebagai diri, kelompok dan anak bangsa untuk membangkitkan dan menegakkan kembali sikap dan perilaku akhlak mulia. Sesuai posisi kita.

Bagi insan beragama, mari kita amalkan prinsip keberagamaan dengan penuh imaniyyah. Jika diri kita sebagai penegak hukum, tegakkan hukum secara adil, bukan mengadalinya atas nama kekuasaan hukum yang dipegangnya. Dan jika kita berposisi sebagai pengelola negara, bersikaplah amanah yang diberikan rakyat, bukan dijadikan aji mumpung (carpedium). Semua itu adalah aklak mulia yang datang dari relung hati (nurani). Nurani yang seperti ini akan membawa perubahan yang sangat subtantif. Masyarakat dan siapapun akan menjadi nyaman hidupnya.

Jakarta, 8 Juli 2024
Penulis: anggota Dewan Pakar DPP PKS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *