Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Berita Utama

Sultan B Najamudin : Regenerasi Petani Dalam Posisi Mengkhawatirkan, Petani Muda Indonesia Baru Ada Satu Persen

124
×

Sultan B Najamudin : Regenerasi Petani Dalam Posisi Mengkhawatirkan, Petani Muda Indonesia Baru Ada Satu Persen

Sebarkan artikel ini
Salah seorang petani perempuan mengajarkan balitanya untuk bertani (foto; dok/Istimewa)
banner 325x300

JAKARTA,RELASIPUBLIK.COM-Hingga tahun 2063 diperkirakan tidak ada lagi profesi petani di Indonesia. Hal tersebut seiring dengan turunnya pekerja di sektor pertanian. Salah satu penyebabnya adalah kaum muda di pedesaan lebih memilih bekerja di kota besar ketimbang menjadi petani di desanya.

Demikian kata Wakil Ketua DPD RI, Sultan B Najamudin mengutip prediksi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

“Porsi petani muda yang rendah di Indonesia harus menjadi perhatian serius oleh pemerintah. Keadaan ini harus diantisipasi oleh semua pihak untuk menemukan solusi dalam mewujudkan regenerasi Petani”, kata Sultan dalam keterangan resminya kepada wartawan di Jakarta, Minggu (18/4/2021).

Wakil Ketua DPD RI,Sultan B. Najamudin (foto: dese lewuk/kd)

Ia menjelaskan, sebagaimana diketahui, bahwa pada tahun 1976 proporsi pekerja Indonesia di sektor pertanian mencapai 65,8 persen. Namun, pada 2019 turun signifikan menjadi hanya 28 persen saja.Dari data tersebut sudah cukup membuktikan kalau prfofesi petani kalah jauh dibandingkan profesi lainnya.

Senator muda asal Bengkulu ini menyebut, pemerintah perlu membuat rancangan strategis khususnya kepada generasi muda (millenial) agar berminta menjadi petani kedepannya.

Menurutnya, selama ini yang utama harus kita lawan adalah stereotip terhadap kesejahteraan kehidupan para petani. Ada pandangan bahwa menjadi petani itu pasti menjadi orang susah dan miskin. Makanya generasi muda lebih memilih sektor pekerjaan lain dibanding hidup dalam sektor pertanian.

Dr. Ir. Sugiyanta, M.Si, Ketua Departemen AGH saat memberikan sambutan serta pengenalan Departemen AGH kepada mahasiswa baru Departemen AGH Fakultas Pertanian angkatan 55 di Auditorium Toyib Handiwijaya Fakultas Pertanian, 16 /8/2018 (foto: dok/IPB Univerity Indonesia).

“Sebagai negara agraris, kita semua harus mengkampanyekan bahwa menjadi petani itu adalah peluang kekinian bagi anak muda. Jadi mindsetnya harus dirubah. Agar para anak muda terbuka pikirannya terhadap isu-isu pertanian dan perkembangan inovasi pertanian. Supaya mereka juga tahu bahwasanya petani tidak hanya kalangan tua, tapi juga ada yang berpakaian rapi dengan penghasilan yang layak serta menjanjikan”, jelas mantan wakil Gubernur bengkulu ini.

Guna menindaklanjuti persoalan tersebut, Sultan mengajak semua pihak untuk ikut menyikapi persoalan sumber pangan Indonesia tersebut.

Ia memberikan opsi antara lain, dengan penguatan peran keluarga, penyuluhan pertanian, komunitas, modernisasi pertanian, dan korporasi petani.

“Jadi,jika pihak-pihak tersebut berperan secara aktif, maka kita semua yakin minat generasi muda akan tumbuh untuk menjadi petani,” imbuhnya.

Potret Petani Indonesia, jika kaum muda tidak tertarik pada profesi Petani,maka bisa jadi 2063 Indonesia tak ada lagi petani,bagaimana dengan ketahanan pangan kita? (sumber Foto: The Conversation )

Sultan menjabar, bagaimana peranan keluarga dapat ditingkatkan melalui penanaman sikap respek, sosialisasi, dan pewarisan usaha pertanian.

“Peranan penyuluh pertanian sebagai fasilitator, komunikator, motivator, konsultan, dan penumbuh kembangan kelembagaan petani muda dapat dikuatkan. Peranan komunitas melalui sosialisasi, transfer informasi, dan konsultasi dapat diintensifkan,” ujarnya memberi solusi agar sektor pertanian di Indonesia tetap diminati oleh generasi petani Indonesia.

Selanjutnya kata dia, bahwa modernisasi pertanian dapat melalui penerapanteknologi mekanisasi pertanian dan smart farming atau digitalfarming.

Hal demikian agar supaya ‘korporasi petani dapat dikembangkan sebagai penarik minat generasi muda karena membuka peluang tersedianya lahan yang layak secara ekonomi, berbasis spesialisasi keahlian, penggunaan alat-mesin pertanian dan meningkatkan posisi tawarpetani.

“Jika semua bahu membahu, maka kepentingan kita dalam regenerasi petani sebagai syarat bagi pertanian yang berkelanjutan, ketahanan pangan yang berkesinambungan, serta kedaulatan pangan secara mandiri akan dapat diwujudkan”, ujarnya mengingatkan.

Dijelaskan Sultan, bahwa faktor rendahnya’ “minat” generasi muda pada usahapertanian selaras dengan fakta bahwa porsi petani mudadi Indonesia sangat rendah.

Hasil sensus pertanian 2013 menunjukkan porsi rumah tangga usaha pertanian untuk kelompok petani muda (kurang dari 35 tahun) hanya12,87%.

Angka tersebut jauh lebih rendah dibanding usia menengah (35-54 tahun) 54,37% dan petani usia lanjut (lebih dari 54tahun) 32,76%.

Bila dibandingkan dengan porsi rumah tangga usaha pertanian kelompok umur di atas 54 tahun yang segera memasuki masa istirahat atau pensiun, ternyata tidak dapat tergantikan oleh porsi kelompok umur kurangdari 35 tahun (32,76% berbanding 12,87%).

Jadi, berdasarkan perbandingan hasil sensus pertanian tahun 2003 dengan tahun 2013 terbukti dalam 10 tahun terakhir telah terjadi penurunan rumah tangga petani sekitar 15%.

Selain itu, hasil sensus pertanian tahun 2003 menunjukkan rumah tangga petani sebanyak 31.232.184 dari total rumah tangga 56.041.000 atau 55,73%.

Adapun, hasil sensus tahun 2013 melaporkan rumah tangga petani sebanyak 26.135.469 dari total rumah tangga 64.041.200 atau 40,81%. Ini sangat miris.

“Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa penduduk yang bekerja di sektor pertanian mengalami penurunan akibat tidak mulusnya regenerasi petani.Jumlah penduduk yang berusaha pada sektorpertanian telah terbukti menurun. Jika ini dibiarkan terjadi, maka kita diambang ketergantungan pangan terhadap negara lain”, kata Senator muda daerah pemilihan provinsi Bengku itu.

Sementara itu, Dr.Ir.Sugiyanta,M.Si,Sugiyanta, dosen Fakultas Institute Pertanian Bogor (IPB0 menyebut angka petani muda di Indonesia hanya “satu persen” dibandingkan dengan generasi tua.

Ia menilai persoalannya sistem pangan pun kerap kali menjadi beban di pundak pemerintah. Ia menyarankan pentingnya membahas tren “green jobs” serta mendorong mahasiswa sebagai generasi muda untuk ikut bergelut dalam agrobisnis.

Pernyataan tersebut merespon isu ketahanan pangan nasional yang dikwatirkan terganggu di masa pandemi COVID-19,sebagaimana dilansir laman resmi IPB University Indonesia,pertengahan Agustus 2020 yang lalu.

“Kita pun dapat memandang hal tersebut sebagai masalah, demikian pula sebagai peluang. Peluang Anda ke depan menjadi pengusaha petani itu terbuka lebar,” imbuh Dr.Ir.Sugiyanta,M.Si.** (domi dese lewuk).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *